KEPEMIMPINAN KRISTEN ADALAH : PELAYANAN DAN PENGORBANAN

KEPEMIMPINAN KRISTEN ADALAH : PELAYANAN DAN PENGORBANAN

Mungkin perbedaan terkuat dalam kepemimpinan Kristen adalah pelayanan dan pengorbanan.
Konsep pelayanan dan pengorbanan merujuk kembali kepada Yesus yang melayani dan berkorban bagi orang-orang yang dipimpin-Nya.

Dalam artikelnya, "Leaders as Servants: a Resolution of the Tension" (Pemimpin sebagai Pelayan: Sebuah Resolusi dalam Ketegangan - Red.), Derek Tiball menulis, "Kepemimpinan Kristen dimaksudkan untuk menjadi berbeda dari bentuk-bentuk kepemimpinan lainnya karena pemimpin Kristen dipanggil untuk menjadi hamba."

Melayani orang lain dalam kepemimpinan pasti berbeda dengan dunia di mana kekuasaan dan pengaruh dipegang oleh mereka yang memilikinya, dan yang diinginkan dengan iri oleh mereka yang tidak memilikinya. Konsep melayani orang lain ini sulit karena "naluri manusia yang telah jatuh adalah untuk mencari kekuasaan, kekayaan, status, dan pengaruh. Kepemimpinan yang melayani, dalam kutipan ini, tidak wajar karena manusia telah jatuh. Berpikir seperti pemimpin-pelayan memerlukan cara berpikir yang baru; bersikap sebagai seorang pemimpin-pelayan membutuhkan pemberdayaan dari Roh Kudus."

Salah satu perkataan Yesus yang paling kontroversial dan melawan budaya adalah ketika berada di bumi adalah saat Ia menanggapi pertanyaan murid-murid-Nya tentang siapakah dari kedua belas orang dari mereka yang terbesar dan paling penting. Tanggapan Yesus adalah: Dalam dunia ini, raja-raja dan orang-orang besar menguasai (berkuasa) atas orang-orang mereka, tetapi mereka disebut "sahabat rakyat". Akan tetapi, di antara kamu (12 murid), hal itu akan menjadi berbeda. Mereka yang terbesar di antara kamu harus menjadi yang paling rendah dan pemimpin harus menjadi seperti seorang pelayan. Siapakah yang paling penting, seorang yang duduk di meja atau orang yang melayani? Seorang yang duduk di meja, tentunya. Akan tetapi, tidak demikian halnya di tempat ini! Sebab, Aku berada di antara kamu sebagai seorang yang melayani.

Sama seperti budaya Amerika, para pemimpin dan penguasa-penguasa pada zaman Yesus memegang kekuasaan atas yang lainnya. Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk mendominasi orang lain dan mempertahankan kontrol atas mereka. Namun, Yesus memanggil murid-murid-Nya keluar dari budaya yang mereka tinggal di dalamnya dan mengumumkan sebuah tatanan baru untuk diikuti oleh para pemimpin Kristen. Dia memerintahkan 12 orang itu, yang akan memimpin orang-orang Kristen baru, untuk menjadi berbeda dari dunia dengan berkata, "Mereka yang terbesar di antara kamu harus menjadi yang paling rendah, dan pemimpin harus menjadi seperti seorang pelayan." Para pemimpin Kristen hanya dapat "mengajarkan apa yang mereka ketahui dan hidupi," dan Yesus pasti mengetahui secara pribadi apa yang Ia ajarkan ketika berkata, "Aku berada di antara kamu sebagai seorang yang melayani." Yesus berkata kepada para pemimpin Kristen bahwa Ia datang untuk melayani.

Kata Yunani yang digunakan dalam pernyataan Yesus di atas dan digunakan di seluruh Perjanjian Baru, yaitu kata "diakoneo", yang berarti "melayani, pelayanan; mengibaskan debu karena pergerakan; memedulikan kebutuhan-kebutuhan orang lain sebagaimana tuntunan Tuhan dalam tindakan yang aktif dan praktis." Dengan pernyataan Yesus dan penggunaan kata ini, "Kepemimpinan hendaknya bukan menjadi permasalahan mengenai hak dan status khusus, tetapi mengenai pelayanan. Semua status sosial disamakan oleh pernyataan ini. Yesus sendiri adalah contoh utama dari pemimpin hamba." Yesus menunjukkan prinsip dari seorang pemimpin yang menjadi hamba ini dengan secara strategis mengatakannya sesudah membasuh kaki para murid-Nya:

Dan jika Aku, Tuhan dan Gurumu, telah membasuh kakimu, kamu harus membasuh setiap kaki yang lain. Aku telah memberi kamu sebuah contoh untuk diikuti. Perbuatlah seperti yang telah Kuperbuat padamu. Aku mengatakan kebenaran kepadamu, para pelayan tidaklah lebih besar daripada tuan mereka. Atau, penerima pesan lebih penting daripada seseorang yang mengirim pesan. Sekarang, jika kamu tahu hal-hal ini, Allah akan memberkatimu untuk melakukannya.

Kabar baiknya adalah bahwa pesan ini dengan berhasil diteruskan dan dipraktikkan oleh murid-murid Yesus dan orang-orang lainnya dalam gereja mula-mula. Sama seperti "Yesus menampilkan diri-Nya secara konsisten sebagai sebuah model pelayanan". Rasul Paulus menggambarkan dirinya dalam beberapa cara ('rasul', 'guru', dll.), tetapi kebanyakan secara terus-menerus sebagai seorang pelayan. Paulus menggambarkan beberapa rekan sekerjanya sebagai pelayan. Paulus menggambarkan dirinya sendiri dan Apolos sebagai "hanya hamba (diadonoi)".
Pesan ini jelas: Kepemimpinan Kristen adalah tentang pelayanan. Akan tetapi, dengan itu juga mendatangkan pengorbanan.

Bersamaan dengan pelayanan dalam pelayanan Kristen akan timbul pula sakit dan pengorbanan. Rasul Paulus mengalami pengorbanan luar biasa selama pelayanannya sebagai seorang pemimpin Kristen dari gereja mula-mula. Paulus berada dalam kapal yang ditenggelamkan, digigit ular, dipenjara, dan akhirnya dibunuh karena pelayanannya sebagai seorang pemimpin Kristen. Yesus juga mengalami sakit yang luar biasa dalam pelayanan-Nya untuk para pengikut-Nya. Henry Nouwen berkomentar pada relevansi pengorbanan dalam pelayanan yang menyatakan, "Kualitas paling penting dalam kepemimpinan Kristen pada masa depan ... adalah bukan sebuah kepemimpinan yang berkuasa dan mengontrol, tetapi sebuah kepemimpinan ketidakberdayaan dan kerendahan hati ketika hamba Allah yang menderita, Yesus Kristus, telah dimanifestasikan." Dengan pemahaman ini, bahwa para pemimpin kristen harus menjadi pelayan-pelayan yang berkorban, penting untuk dicatat "pendekatan Kristus untuk memimpin dan pendekatan-Nya memerintahkan para murid-Nya adalah salah satu hal yang memuliakan Allah dan melayani kesejahteraan orang lain. Hal tersebut tidak mencari kemuliaan diri sendiri untuk tindakan pelayanan atau memanipulasi bawahan untuk mencapai kepentingan pribadi pemimpin.

Pertanyaan: Apakah Anda percaya bahwa seorang pemimpin Kristen harus melayani dan berkorban?

  Artikel Ini Disalin Dari : -
  • Judul asli artikel: Christian Leadership is: Service and Sacrifice
  • Penulis artikel: Christopher L. Scott
  • Tanggal akses: 16 Januari 2016
  • Repost dari blog: http://waroyjohn.blogspot.co.id

Arti Penebusan Dosa

Istilah "penebus dosa" atau "penghapus dosa" merupakan salah satu topik yang utama di dalam Alkitab. Istilah ini berasal dari bahasa Ibrani "kaphar," yang muncul di dalam Perjanjian Lama sebanyak + 80 kali. Di dalam Alkitab bahasa Indonesia adakalnya ia diterjemahkan sebagai "pendamaian." Hal ini sesuai dengan bahasa Yunaninya "katallage," yang berarti "mendamaikan" (Roma 5:11).

Maka pada hakekatnya, "menebus" berarti memberikan atau berbuat sesuatu untuk membatalkan tuntutan atas seseorang. Khususnya Tuhan Yesus disebut sebagai Penebus bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Ia memberikan hidup-Nya agar kita ditebus dari dosa dan maut (Mr 10:14; 1Pet 1:18-19), kemudian didamaikan dengan Allah.

A. TEORI-TEORI TENTANG PENEBUSAN

Di sini kita sekedar memperbincangkan beberapa teori yang "salah" atau "kurang sempurna" yang telah mempengaruhi gereja-gereja sepanjang zaman:

1. TEORI PATRISTIK

Teori yang dipegang oleh bapa gereja pada abad-abad permulaan, di mana kematian Kristus dianggap sebagai tebusan yang dibayar oleh Allah kepada Iblis. Teori ini seolah-olah membuktikan bahwa Allah tidak mampu melepaskan jiwa-jiwa manusia yang dibelenggu oleh iblis, kecuali membayar suatu tebusan kepada iblis.

2. TEORI SOCINNIAN 

Teori ini diajukan oleh Faustus Socinus pada abad ke-16 dan dipercayai oleh kaum Unitarians. Mereka beranggapan bahwa kematian Kristus berupa kematian seorang syahid untuk suatu kebenaran. Kematian ini akan memberikan ilham pengikut- pengikut-Nya, untuk memperoleh kemenangan di dalam pergumulan moral. Teori ini dengan jelas telah menyangkal kuasa Injil di dalam hal menyelamatkan manusia dan mentransformasikan orang yang percaya.

3. TEORI PENGARUH MORAL 

Teori ini disenangi oleh ahli teologi aliran baru (modernism, Liberalism). Mereka beranggapan bahwa kematian Kristus tidak menggenapi sesuatu yang ilahi, melainkan hanya suatu pengaruh agar manusia bertobat. Teori ini hanya mengutamakan kasih Allah, tapi tidak menghiraukan keadilan Allah.

4. TEORI ANSELM 

Teori ini merupakan dasar pengajaran teologi gereja Roma Katolik dan juga Teori Grotius yang dikemukakan oleh Hugo Grotius. Kedua teori ini mengutamakan keadilan dan kehormatan Tuhan, tetapi mengabaikan kebenaran dan kasih Tuhan.


B. PENEBUSAN MELALUI KRISTUS 

1. DASAR PENEBUSAN 
Menurut Yohanes 3:16, elemen yang menjadi dasar penebusan Kristus adalah kasih Allah. Dosa manusia adalah pelanggaran terhadap keadilah dan kesucian Allah, dan akibatnya ialah hancurnya hubungan antara Allah dan manusia. Kasih Allah adalah kasih yang adil. Hal ini menyangkut dua hal: Yang pertama, manusia yang berdosa tak mungkin mempunyai hubungan kasih dengan Tuhan. Yang kedua, Tuhan yang adil tak mungkin mengabaikan dosa manusia. Kasih yang adil inilah yang mendorong Allah untuk menyediakan penebusan melalui Kristus.

2. RESOLUSINYA 

Dosa manusia merupakan pelanggaran terhadap Allah, maka hanya Allah yang dapat menyelesaikan persoalan dosa. Menurut Roma 3:26, upah dosa itu maut. Hanya kematian seorang yang tidak berdosa, yang dapat menyelesaikan persoalan dosa yang dihadapi oleh manusia (Bil 28:3; 1Pet 1:19). Satu-satunya jalan keluar untuk penebusan adalah Allah yang menjadi manusia di dalam Kristus Yesus. Ia harus mati di atas kayu salib untuk menggantikan hukuman dosa manusia (Yoh 1:14,29; Ibr 9:14)

3. KWALIFIKASI SEBAGAI PENEBUS 
Menurut Perjanjian Lama, dalam hal penebusan dosa dibutuhkan Imam dan korban persembahan. Tuhan Yesus memenuhi kedua syarat ini: Ia adalah Imam Besar dan Ia adalah Domba Allah yang dipersembahkan sebagai korban penebusan dosa (Ibr 9:10-12)

C. AKIBAT PENEBUSAN

KUASA DOSA DIHANCURKAN Kristus yang tak berdosa menderita hukuman dan mati bagi dosa manusia. Dengan demikian, kuasa dosa dan maut telah dihancurkan (1Kor 15:55-58).

1. PENGAMPUNAN DOSA 
Pengampunan Tuhan diberikan kepada mereka yang percaya dalam keselamatan Tuhan Yesus
(Roma 8:1-2)

2. PERSEKUTUAN ANTARA ALLAH DAN MANUSIA DIPULIHKAN 
Orang berdosa yang berseteru dengan Allah didamaikan melalui darah Kristus (Kol 1:20-22)

3. HIDUP YANG KEKAL 
Barangsiapa yang percaya dan menerima penebus-Nya, akan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

4. PENEBUSAN YANG SEMPURNA 
Tuhan menjanjikan penebusan yang sempurna, yaitu penebusan atas tubuh, jiwa dan roh. Hal ini akan digenapi tatkala Yesus datang untuk kedua kalinya (1Tes 5:23).

  • Repost dari blog: http://waroyjohn.blogspot.co.id

Pemimpin Dalam Panggilan Tuhan

"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi (pemimpin) bagi bangsa-bangsa"

Musa, siapa tidak kenal? Dia adalah seorang pemimpin besar yang ditugaskan oleh Tuhan untuk membawa bangsa Israel -- umat Tuhan yang hidup dalam perbudakan -- keluar dari negeri Mesir. Siapa pula yang tidak kenal Yosua, yang menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel; generasi muda yang lahir di padang gurun selama berkelana 40 tahun?

Keduanya jelas merupakan sosok pemimpin zaman itu yang melakukan mukjizat dan mendemonstrasikan kuasa Tuhan. Musa dengan tongkatnya membelah Laut Merah setelah sebelumnya melakukan 10 mukjizat di tanah Mesir, sedangkan Yosua melakukan mukjizat dengan memerintah matahari dan bulan untuk berhenti di tempatnya ketika bangsa Israel bertempur dengan bangsa Amori (Yosua 10:12-14). Jelas mereka berdua merupakan pemimpin besar bangsa Israel, bukan saja karena jumlah umat yang harus dibawa, tidak kurang dari 2.5 juta orang, tetapi juga karena bangsa tersebut tidak mudah dipimpin -- disebut dengan istilah bangsa yang tegar tengkuk.

Bagaimana mereka menjadi pemimpin atau lebih tepatnya, bertanya bagaimana mereka dipanggil Tuhan untuk menjadi pemimpin?

Alkitab menceritakan ada kisah yang mirip seperti yang dialami oleh Musa maupun oleh Yosua. Pada waktu Musa sedang menggembalakan domba di tanah Median, tiba-tiba ia melihat belukar yang menyala-nyala, tetapi tidak terbakar, dan ketika ia menghampiri kemudian berusaha menjauh, ia mendengar namanya dipanggil: Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." (Keluaran 3:3-5) Sedangkan Yosua pada waktu ia sedang memandang Kota Yerikho yang harus dilewati bangsa Israel karena merupakan pintu gerbang menuju Tanah Perjanjian Kanaan, tiba-tiba melihat seorang laki-laki, dan Yosua pun mendekati orang itu dan terjadilah dialog ini: ... "Kawankah engkau atau lawan?" Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus." Dan Yosua berbuat demikian. (Yosua 5:13b 15)

Sesuai dengan pernyataan yang disampaikan kepada Musa, ternyata Musa berhadapan dengan Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (kakek buyut, kakek, dan ayah), sedangkan Yosua menurut beberapa interpretasi berhadapan langsung dengan Tuhan Yesus, yang mengaku sebagai Panglima Balatentara Tuhan. Keduanya tidak menolak ketika Musa maupun Yosua sama-sama bersujud menyembah. Dari pengalaman keduanya, kita melihat persamaan menerima perintah: "Tanggalkan kasutmu ... sebab tanah di mana engkau berdiri adalah kudus."

Kita bisa mengambil dua kesimpulan dengan peristiwa ini. Pertama, bahwa di mana ada hadirat Tuhan, tanah apa pun, entah itu tanah berbelukar ataupun jalan yang sunyi, menjadi kudus. Kedua, siapa pun yang berhadapan dengan Tuhan harus menjadi kudus, ditandai dengan menanggalkan kasut. Mengapa kasut? Rupanya kasut mengandung rahasia juga yang perlu kita gali dan menjadi kunci dalam panggilan Tuhan terhadap seorang yang dipilih-Nya untuk menjadi seorang pemimpin.

Kasut melambangkan setidaknya tiga hal. Pertama, sebagai status. Pada waktu itu di Israel, kasut menjadi salah satu lambang status, semakin tinggi status dan semakin kaya seseorang, semakin bagus kasut yang dipakainya. Pakaian boleh saja kurang lengkap atau bermutu sedang-sedang, tetapi kasut tetap harus dipakai kecuali sedang bertamu, harus ditanggalkan. Sebetulnya, tidak sulit untuk dapat mengerti hal ini, bayangkan Anda datang di sebuah pesta, yang pria dengan jas lengkap dan yang wanita memakai long-dress, tetapi keduanya tidak memakai sepatu alias "nyeker". Bayangkan pandangan semua orang terhadap mereka. Kedua, sebagai hak. Kita bisa mengetahui dari kisah Rut. Diceritakan ketika salah satu sanak dari Boas tidak bersedia mengawini Rut, maka ia melepaskan kasutnya sambil berkata: "Engkau saja yang membelinya." Dan, ditanggalkannyalah kasutnya. Kemudian berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: "Kamulah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi" (Rut 4:8 9). Ketiga, sebagai kuasa. Ini bisa kita ketahui ketika Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang, ia dengan lantang berkata kepada umat Israel yang sedang antre untuk dibaptis di Sungai Yordan: Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api (Matius 3:11).

Dari peristiwa yang dialami oleh Musa dan Yosua, kita belajar bahwa seorang pemimpin ketika dipanggil oleh Tuhan harus menyadari bahwa Tuhan itu kudus, dan ia harus datang kepada Tuhan dalam kekudusan dengan sungguh-sungguh merendahkan diri dan menyerahkan kepada Tuhan, baik status, hak, maupun kuasa yang ada dalam dirinya.

Setelah peristiwa itu, Anda melihat bahwa mereka berdua siap dan mulai melakukan panggilan Tuhan untuk melakukan perkara-perkara besar dalam memimpin bangsa. Ada 'transfer of power through holiness' (transfer kuasa melalui kekudusan -- Red.).

Sejak zaman Alkitab, banyak pemimpin seperti Nebukadnezar, Beltsazar, dan Herodes, yang bersikap  arogan karena kehebatan dan kekuasaan mereka, tetapi pada akhirnya mereka jatuh dalam kesombongan mereka. Sebab, Tuhan menentang pemimpin yang congkak dan ingin agar setiap pemimpin terlebih dahulu belajar merendahkan hati di hadapan Tuhan.

Kita tahu bagaimana keduanya berhasil dengan baik menjalankan tugas besar dari Tuhan sekalipun memerlukan dua tahap estafet dan dua generasi karena tegar tengkuknya bangsa Israel.

Kita perlu memiliki pemimpin seperti Musa dan Yosua. Adakah kita temukan di negeri kita? GBU
___________________________________________________________________

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: Full Gospel Business Men's Fellowship International Indonesia
Alamat URL: http://www.fgbmfi.or.id/2013-07-06-04-08-39/artikel/special-teaching/192-pemimpin-dalam-panggilan-tuhan
Penulis artikel : DR. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM.
Repost dari blog: http://waroyjohn.blogspot.co.id/

Cara Mengatasi Sifat Egoistis ?


Bagaimana Cara Mengatasi Sifat Egoistis ?

Dalam masyarakat modern sering terjadi suatu tendensi, di mana kehidupan manusia terlalu individualistik. Masing-masing hanya mementingkan dirinya sendiri. Dengan istilah lain manusia terlalu egoistis. Melalui ruangan ini kita akan membahas tema tersebut, dengan maksud supaya kita lebih mengenal diri kita sendiri dan mengetahui untuk siapa kita hidup.

A. PERKEMBANGAN KARAKTER SESEORANG

Egosentristik atau self-centeredness adalah ciri-ciri khas yang terdapat dalam karakter seseorang pada masa kanak-kanak. Kehidupan seorang bayi secara total tergantung pada ibunya. Dunia yang dikenalinya sangat sempit, seolah-olah dialah pusat seluruh dunia. Dia "expert" dalam hal menerima, tanpa memberikan sesuatu kepada orang lain; dia membutuhkan kasih, tetapi tidak tahu bagaimana mengasihi.

Dalam proses pertumbuhan, lambat laun ia meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki masa muda, kemudian bertumbuh menjadi dewasa. Semakin luas lingkungna yang ia kenal, dan reaksi manusia yang semakin ruwet, menyebabkan ia meninggalkan dunia egosentrisnya, serta menjadi dewasa dalam pandangan dunia yang objektif.
Tetapi bukannya setiap orang lancar dalam pertumbuhan jiwa yang sedemikian. Banyak orang harus mengalami lebih banyak pelajaran dan kesukaran, barulah menjadi dewasa. Dalam ilmu jiwa, keadaan yang sedemikian disebut "arrest of growth."
Kita yakin bahwa dalam dunia tidak ada orang yang 100% bebas dari ikatan egosentristik. Tetapi yang kita bahas di sini adalah egosentrisme yang ekstrim. Orang yang sedemikian tidak dapat menikmati rahmat kehidupan yang dikaruniakan oleh Tuhan.

B. PENDERITAAN SESEORANG YANG EGOISTIS

Orang yang terlalu egoistis bagaikan hidup dalam ruangan yang dikelilingi dengan cermin. Setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya, hanya memantulkan dirinya sendiri. Misalnya, ia selalu menilai persahabatan dengan keuntungan yang dapat diperoleh. Bahkan motif berpacaran pun bukan harus karena cinta kasih, tetapi hanya untuk memuaskan kebutuhannya.
Mereka sangat gemar dipuji dan terlalu sensitif terhadap perkataan orang lain. Ia sering tidak dapat tidur karena memikirkan perkataan orang lain. Mereka juga terllau self-awareness; selalu mawas akan perkataan yang baru diucapkan atau perbuatan yang baru dilakukan. Kekhawatiran terhadap hari depan selalu menekan hidupnya. Mereka selalu menderita tanpa damai sejahtera Tuhan.
Adakah orang-orang yang demikian di kalangan umat Tuhan? Inilah contohnya: Pada suatu hari Jerry mengatakan: "Aku senang ke gereja kalau aku sedang kesepian atau terlalu nganggur." Perkataan yang singkat ini telah menyatakan sifat Jerry yang egoistis. Hubungannya dengan Tuhan didasarkan atas kepentingan diri sendiri. Dia tidak rela mengorbankan sedikit waktu bagi Tuhan.
Egosentrisme merupakan peringai lama yang harus kita tanggalkan (Efesus 4:22).

C. CONTOH-CONTOH DALAM ALKITAB

Banyak tokoh dalam Alkitab yang segenap hidupnya diabdikan kepada Tuhan dan sesama manusia. Misalnya Mordekhai, seorang pahlawan dalam sejarah bangsa Israel. Ia tidak mementingkan hidupnya sendiri, dengan berani mengambil resiko yang besar untuk menyelamatkan bangsanya. Contoh yang lain adalah rasul Paulus, semua pengabdiannya kepada Tuhan dapat diungkapkan dalam Galatia 2:20 "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Paulus pun menganjurkan supaya kita "Bertolong-tolonganlah menanggun beban" (Gal 6:2).
Di dalam Injil Lukas Tuhan Yesus mengutarakan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (Luk 10:33-37). Orang Samaria ini telah memberikan teladan yang baik dalam hal mengulurkan tangan membantu orang lain. Hal ini akan tercapai kalau kita tidak mengunci diri dalam ruangan yang dikelilingi cermin, tetapi kita menggantikan cermin ini dengan kaca. Melalui kaca ini kita dapat menikmati dan menilai dunia luar dengan objektif. Kita dapat mengetahui kebutuhan orang lain dan kita dapat mempelajari kebaikan orang lain.
Tuhan Yesus berkata: "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,  Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat 22:37-39). Kalau Saudara merasa dirinya tidak memiliki kasih yang demikian, mengapa tidak mohon Roh Kudus mencurahkan kasih Allah yang ilahi dalam hati Saudara? (Roma 5:5).

Semoga tulisan tentang Cara Mengatasi Sifat Egoistis bermanfaat bagi saudara, para pembaca sekalian. Tuhan Memberkati, amin.

Repost: http://waroyjohn.blogspot.co.id

Lidah: Mengapa Kita Harus Mengendalikannya?


Mengapa Kita Harus Mengendalikan Lidah.?

Pada suatu hari saya memberikan teka-teki kepada seorang murid Sekolah Minggu:
"Coba terka, benda apakah yang kecil bentuknya, tetapi besar pengaruhnya?" Jawaban yang spontan yaitu: "Bom Atom! "Mengapa?" tanya saya. Lalu ia menerangkan bahwa sebutir bom atom yang diledakkan dapat membinasakan jutaan manusia dan radiasinya dapat mempengaruhi seluruh dunia.

Jawaban anak Sekolah Minggu itu betul, tetapi tidak setiap manusia memiliki bom atom. Tahukah Saudara, bahwa setiap kita mempunyai LIDAH. Lidah adalah organ tubuh yang kecil, tetapi pengaruhnya besar. Seperti apa yang dikatakan oleh Yakobus: "Lihatlah, betapa kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api" (Yak 3:5-6).

Ada beberapa macam "Lidah" yang dapat menjadi peringatan bagi kita sekalian.

A. LIDAH TAK BERTULANG

"Lidah tak bertulang" adalah pepatah yang sering kita dengar yang berarti mudah berjanji tidak menepatinya. Seperti halnya seorang pemuda yang sedang berpacaran. Untuk memikat hati si dia, ia berjanji muluk-muluk: "Untuk engkau, mati pun saya rela " Tetapi, tidak lama berselang, si pemuda tersebut sudah mengkhianati janji-jani-Nya. Ia sudah "changed his mind." Maka "lidah tak bertulang" berarti perkataan yang keluar dari mulut saja dan bukan dari hati. Sebagai orang Kristen, marilah kita bertanggung jawab atas perkataan yang keluar dari mulut kita sendiri.

B. LIDAH PANJANG

Dalam peribahasa Tionghoa, oramg yang suka menyampaikan "gosip," dikiaskan sebagai "nenak tua yang berlidah panjang." Lidah yang panjang dengan motif yang jahat dapat menyampaikan perkataan-perkataan yang tak sesuai dengan kenyataan. Hal ini akan menghancurkan kepribadian seseorang, menyebabkan keretakan dalam gereja dan menyakiti hati orang lain. Pernahkah Saudara berbuat sedemikian? Ingatlah firman Tuhan yang mengatakan: "Engkau merancang penghancuran, lidahmu seperti pisau cukur yang diasah, hai engkau, penipu."

C. LIDAH PENJUAL OBAT

"Lidah penjual obat" berarti pembual atau lidah yang tidak terkendali. Ada sebuah lelucon sebagai berikut: Seorang penjual obat di tepi jalan ingin menarik perhatian para penonton, sehingga ia menyediakan sebuah kerangka manusia sambil mengatakan: "Inilah kerangka moyang kita Adam." Sahut seorang penonton dengan tiba-tiba: "Tidak mungkin, sebab tulang rusuk Adam tentunya kurang satu, padahal itu lengkap." Penjual obat menjawab: "Betul, ini kerangka Adam semasa Hawa belum diciptakan."

Saudara-saudara sekalian, banyak di antara kita berlidah penjual obat, asal putar lidah tetapi tak terkendali. Hal ini akan menurunkan reputasi kita sendiri. "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi" (#/TB Ams 10:19*). Ingatlah bahwa tidak ada penghapusan perkataan yang terlanjur keluar dari mulut kita.

D. LIDAH BERBISA

Lidah yang berbisa adalah orang yang suka memfitnah, menghasut, mengadu domba, menghina dan menjatuhkan orang lain. Pemazmur mengatakan: "Mereka menajamkan lidahnya seperti ular, ular senduk ada di bawah bibirnya" (Mazm 140:4). Lidah yang berbisa jauh lebih jahat dan lidah-lidah lain yang telah kita bahas tadi. Saya yakin bahwa Tuhan akan mencabut kesejahteraan orang-orang yang demikian, "Pemfitnah tidak akan tinggal tetap di bumi" (Mazm 140:12).

PENGAJARAN ALKITAB

Kesalahan dalam berkata-kata bukan hal yang remeh atau kecil, melainkan menyangkut seluruh kepribadian orang Kristen.
Tanda orang yang beribadah: "Jikalau ada seorang mengganggu dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya" (Yak 1:26).
Tanda orang yang sempurna: Barangsiapa tidak salah perkataannya, ia adalah orang yang sempurna yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Teladan Tuhan Yesus: "Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan "kata-kata" yang indah yang diucapkan-Nya (Luk 4:22).
Teladan Timotius: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu" (1Tim 4:12).
Peringatan: "Setiap kita sia-sia yang diucapkannya orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman, karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum" (Mat 12:36-37).
Doa orang Kristen: "Setelah pembahasan tentang lidah, marilah kita mawas diri, apakah kita pemfitnah, pembohong, pemarah, penghasut, pembual, pengadu domba, dan lain-lain. Hendaklah kita berdoa demikian: "Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazm 141:3).

Semoga Tulisan tentang Lidah : Mengapa kita harus mengendalikannya.? bermanfaat bagi pembaca sekalian, Gbu.

  • Repost dari blog: http://waroyjohn.blogspot.co.id

BUAH SEJATI

Bacaan : 2 Timotius 2:1-7
Ayat : 2 Timotius 2:2

BUAH SEJATI

Christian A. Schwarz, peneliti pertumbuhan gereja alamiah, mendapat pertanyaan yang mengubah pemikirannya tentang kehidupan yang berbuah. Donald McGravan, yang dihormatinya sebagai bapak pertumbuhan gereja, suatu ketika menanyainya, “Apakah buah sejati sebatang pohon apel?” Dengan naif Schwarz menjawab, “Tentu saja buah apel.” McGravan tampaknya sudah menduga jawaban itu. “Salah,” katanya, kemudian terdiam sejenak penuh arti. “Buah sejati pohon apel bukan buah apel, melainkan pohon apel lainnya.” Berbuah, dengan demikian, sebenarnya bukan sekadar menghasilkan buah, melainkan melipatgandakan kehidupan yang serupa.

Paulus pun mengemukakan prinsip pelipatgandaan tersebut dalam hal pemuridan orang percaya. Ia mendorong Timotius agar tidak berpuas diri hanya dengan mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada jemaat yang dipimpinnya. Anggota jemaat harus diperlengkapi sedemikian rupa, sehingga mereka bukan hanya memahami dengan baik dan menerapkan kebenaran yang diajarkan, melainkan mampu pula mengajarkan lagi kebenaran itu kepada orang lain. Estafet pengajaran ini merupakan salah satu faktor yang menunjang pertumbuhan gereja.


Grace Fministry 10 April jam 7:50 Balas
________________________________________

Ketika kita menerima pengajaran firman Tuhan, ibaratnya kita sedang mengalami pembuahan. Ketika kita memahami dan menerapkan firman itu, berarti kita sedang menghasilkan buah. Ketika kita mengajari orang lain sampai orang itu memahami, menerapkan, dan mampu mengajarkan lagi kebenaran tersebut, barulah kita sungguh-sungguh berbuah. Jadi, sudah sejauh mana kehidupan kita berbuah?


Berbuah tidak lain berarti melipatgandakan kehidupan



2 Timotius 2:1-7

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

Humor: Ayam Makan Nasi

ilustrasi - google
ini ada pace 1 de nich fens berat s'kali sama Persipura.truzz klo de tra nonton 1x tuh macam de rugi skali ka pa......jadi skarang pace ko tra tau klo Persipura dong ada main di mandala.....

skrng begini pace lapar jadi pace ko masuk di warung.......masuk begini de lihat di tv dong ada siarkan acara langsung Persipura dong ada main......jd pace nonton serius.......(klo pace su duduk nonton serius tra da yg bisa ganggu)

begini mba yg punya warung tanya sama pace nich.......

mba :permisi pak........mau pesan apa.....

(pace ko tra jawab de asyik nonton)jd mba de tanya lagi......tapi pace nich de tra mau jawab........mba de tanya lg......baru de su ganazz nich.......langsung pace de bilang......

pace :ada nasi

mba :ada

pace :ada ayam

mba :ada

pace :ya.......sudah kasih ayam makan nasi.........

pace su terlalu emosi jadi angkat saja.......hehehe ktwa tp jang buka mulut :)